Rabu, 01 Juli 2015

Strange Picture of a Little Girl

Bersantai dan melihat sekumpulan bebek berenang di danau buatan di taman kota bukanlah suatu hal yang bisa aku lakukan setiap saat mengingat jadwal pekerjaan yang padat. Hari ini bisa jadi aku harus berterimakasih kepada PLN. Karena ada pemeliharaan jaringan, lewat media twitter pihak PLN resmi mengumumkan serta meminta maaf karena akan mematikan jaringan listrik di sebagian besar wilayah kota. Oleh sebab itu, ketika listrik mendadak padam yang sungguh sangat bertepatan karena kepalaku sedang puyeng akan banyaknya laporan yang aku susun, maka aku meminta izin keluar untuk menghilangkan penat. Taman kota, adalah pilihan yang tepat untuk bersantai menurutku.
Kuteguk sedikit minuman kaleng, dan tak lama sambil menghirup nafas aku mengeluarkan sendawa yang keras karena reaksi soda yang masuk dilambungku. Hhmmm nikmat sekali rasanya bisa bersendawa sambil menikmati pemandangan disini. Didepanku, terpampang sebuah danau buatan yang sangat indah meski ukurannya tidak besar. Banyak para pengunjung yang bermain di sekitar danau dan memberi makan para ikan. Banyak juga para remaja yang sedang duduk - duduk santai sepertiku sambil mendiskusikan sesuatu. Berada beberapa menit saja disini rasanya sungguh melegakan pikiran.
Seorang gadis kecil berjalan melewatiku. Dia kira - kira berumur sekitar 5 sampai 7 tahun. Perawakannya sedikit kurus, berambut pendek, berkulit putih. Entah darimana semerbak wangi harum bunga tiba - tiba saja tercium jelas di hidungku. Wangi harum yang tercium tidak bisa jelas aku identifikasi tepatnya. Yang kurasakan, wangi itu bila kucium rasanya seperti melegakan jiwa. Gadis kecil itu menoleh kepadaku sejenak, kemudian dia meneruskan perjalanannya. Wajahnya mengisyaratkan kesedihan, kepedihan yang luar biasa. Entah kenapa aku bisa membaca raut mukanya, dan aku mendadak benar - benar bisa merasakan perasaan nelangsa yang dialaminya.
Kuberdirikan tubuhku ini, dan aku mulai berjalan mengikutinya dari belakang. Aku berjalan pelan membuntutinya dengan jarak kurang lebih 10 meter. Gadis itu berjalan tegak dengan pandangan lurus kedepan. Dia memakai sandangan serba putih mulai dari kemeja putih dan rok sebatas lutut dengan tekukan lancip berwarna putih. Bila diperhatikan lebih cermat, gadis itu tidak menggunakan alas kaki. Aku bertanya dalam hati bagaimana gadis itu bisa tahan berjalan dengan santainya diatas aspal yang tentunya sangat panas akibat terkena pancaran sinar matahari?
Kurang lebih sepuluh menit berjalan gadis itu memasuki suatu celah kecil yang diapit oleh dua buah rumah yang sepertinya kosong. Aku menundukkan badanku, sedikit merangkak memasuki celah itu hingga saat berhasil keluar dari celah, kutemui lorong yang pengap dan kutelusuri lorong itu hingga menemukan sebuah halaman belakang rumah yang tidak terawat. Kulihat gadis itu berdiri di depan kerumunan anak - anak sekolahan berseragam SMA yang sedang melakukan pesta miras. Kudapati ada 5 orang lelaki dan 3 buah perempuan. Para lelaki asik meneguk minuman keras sembari bersenandung, sedangkan para gadis asyik merokok sambil bercengkrama. Tampaknya halaman belakang rumah kosong ini sangat ideal untuk dijadikan tempat maksiat.
Seakan puas memerhatikan para remaja yang sedang asyik berpesta , gadis kecil itu meninggalkan mereka dan melompati pagar belakang halaman rumah. Tak mau ketinggalan jejak si gadis kecil itu, aku kembali membuntutinya. Ketika melewati para remaja, mereka sejenak menghentikan aktifitasnya dan memelototiku dengan ekspresi curiga. Yah, mungkin batin mereka bertanya - tanya mengapa mendadak seorang pria dewasa seperti aku lewat di tempat yang seharusnya rahasia dan tertutup bagi kaum muda seperti mereka? Namun aku juga bertanya - tanya dalam hati, mengapa mereka para remaja tadi perhatiannya tidak terganggu akan hadirnya sebuah gadis kecil yang berdiri dan memperhatikan kegiatan pesta mereka? Sepertinya, mereka seakan tak merasakan kehadiran gadis itu.
Kurang lebih 15 menit aku berjalan mengikuti gadis itu. Sekarang, tanpa sadar aku sudah memasuki pusat kota. Aku menjadi penasaran dimana sebenarnya tujuan gadis itu? Keringatku mulai bercucuran, dan kemejaku mulai basah dan membuatnya terlihat mencolok dimata orang. Bagaimana mungkin seorang gadis kecil berjalan dengan santainya tanpa alas kaki di atas panasnya aspal jalanan dan mampu bertahan selama ini seakan gadis itu memiliki tenaga kuda dan alas kaki baja.
Gadis itu berhenti di sebuah bangunan gedung tua yang sepertinya sudah direnovasi. Diatas gedung itu terdapat tulisan papan besar yang menjelaskan bahwa bangunan tua ini adalah tempat fitness dan relaksasi. Aku memasuki tempat itu, mengikuti apa yang juga dilakukan gadis aneh itu. Didalam, memang terdapat banyak alat fitness namun sedikit aktifitas dan pengunjung, dan sisi koridor lain yang dibatasi oleh sekat kaca terlihat beberapa orang sedang melakukan terapi. Kulihat kebanyakan ibu - ibu muda.
Gadis itu terus berjalan hingga menemui sebuah pintu kecil yang dijaga oleh dua orang berbadan kekar. Gadis itu berhenti sejenak , bibirnya bergerak dan mengucapkan seraya berbisik sebuah kata yang dari kejauhan yang entah mengapa aku bisa mendengarnya. Ini sangat aneh sekali. Aku hampir menutup kedua telingaku ketika gadis itu berujar sesuatu kepada dua orang yang bertubuh kekar didepannya. Suaranya benar - benar berdengung kencang. Ketika pintu itu terbuka keluar sebuah pria dewasa yang kira - kira berumur 40 tahunan yang dengan gugupnya menggenggam sebuah smartphone yang didekatkan di telinganya. Ketika melewatiku dengan tergesa - gesa aku bisa mendengar perkataannya seperti, " Maap Mah, papa sedang lagi ada meeting mendadak, jadinya IFA dan Zena bakalan sedikit menunggu lebih lama buat aku jemput di sekolah nanti!"
Jelas saja Pria itu berbicara bohong kepada istrinya. Meeting di tempat fitnes dan relaksasi? Yang benar saja. Akupun menjadi penasaran apa sebenarnya yang ada di balik pintu itu. Ketika aku mengalihkan kembali perhatianku ke pintu itu, sang gadis sudah tidak ada. Karena terkejut, aku langsung berjalan dan menuju pintu itu. Namun sebelum meraih kenop pintu, sebuah tangan kekar salah satu dari dua penjaga itu menahanku sambil berkata, "Kata Sandi-nya Pak?"
Kata sandi?? Aku jadi heran, untuk memasuki pintu ini saja diperlukan sebuah kata sandi?! Akupun hanya terdiam sesaat dan bingung. Aku tidak tahu apa kata sandinya. Lalu, bagaimana gadis tadi bisa memasukinya? Namun mendadak bibirku berucap " Rose Flower 666" Dengan segera dan tanpa aku duga, salah satu penjaga membukakan pintu dan berkata "semoga hari anda menyenangkan"
Aku tak menduga celotehanku benar. Kata Rose Flower 666 kudapat dari ucapan gadis kecil tadi saat si gadis berucap sesuatu kepada kedua penjaga tadi dan saat itu seakan aku mendapatkan sebuah bisikan yang memekakkan telinga. Apakah si gadis tadi berkomunikasi denganku? Dan dia memberitahuku mengenai kata sandi ini? Rasanya ini semua diluar akal sehat.

"Apa - apaan ini?" Batinku dalam hati. Sungguh aku tak menduga bahwa pemandangan yang akan aku dapati adalah sebuah hal yang mengejutkan. Kulihat sebuah ruangan besar yang terdiri dari sofa sofa yang mengitari sebuah panggung bulat yang di tengahnya berdiri seorang penari erotis yang sedang memolekkan tubuhnya bergelantungan di sebuah tiang besi. Gadis - gadis erotis itu sepintas kulihat masih berumur remaja, namun keremajaan mereka seakan tak menutupi kemampuan menari erotis mereka yang sangat indah bak sudah berpengalaman.
Gemerlap lampu benar - benar memeriahkan area ruangan ini. Warna - warni kilatan lampu dan sound suara yang dimainkan oleh seorang DJ yang menggelegar memekakkan telinga. Beberapa remaja terlihat dekat area yg sedikit luas, mereka membentuk suatu kerumunan dan menari bersuka ria. Sedangkan para pria dewasa kebanyakan bercengkrama di meja sofa menyangkut soal bisnis dan menikmati tarian erotis. Aku mulai berpikir, bagaimana kedua penjaga berbadan kekar tadi meloloskan si gadis belum cukup umur untuk memasuki tempat ini?
Cahaya yang agak gelap temaram, warna - warni lampu yang berkelebat, banyaknya orang yang berseliweran menyulitkanku untuk mencari dimana posisi gadis kevil itu sekarang. Namun tak perlu waktu lama, aku melihatnya sedang memandangi sebuah panggung dengan tiang penyangga namun tanpa adanya penari erotis diatasnya, dan di sofa yang mengelilingi-nya pun tanpa adanya pengunjung. Itu adalah satu - satunya area yang sepi di pojok sudut ruangan.
Kuperhatikan gadis kecil itu mulai beranjak seakan puas setelah memandangi area yang sepi itu. Dipikiranku masih bingung apa sebenarnya yang dilakukan oleh gadis itu? Sekarang, dia berjalan menuju area Bar yang menurutku minimalis. Kucermati, gadis itu berhenti di depan seorang lelaki, yang bisa dibilang masih muda berumur dua puluh tahunan. Sambil duduk, Lelaki itu meneguk sebuah gelas kecil yang berisi minuman keras dan setelah puas dengan gerakan memejamkan matanya akibat reaksi alkohol di lambungnya, lelaki itu meletakkan gelas kecil tersebut di meja panjang di depannya dan seorang bartender dengan tangan penuh tato mengambil gelas tersebut.
Di kanan - kiri lelaki tersebut dua orang wanita muda menggodanya dan sekali - kali memberikan kecupan menggoda pada leher lelaki tersebut. Namun tak berselang lama lelaki tersebut berdiri, seakan tak menghiraukan godaan dua wanita tadi. Dia mengambil sebuah uang di sakunya dan memberikan tips maupun bayaran kepada sang bartender dan kedua wanita cantik tersebut. Setelah itu dia meninggalkan Bar dan menuju ke pintu keluar. Sang gadis kecil itu, kulihat mengikutinya dari belakang lelaki muda itu.
Dua orang bertubuh kekar juga ditempatkan di pintu keluar ruangan hiburan tersembunyi berkedok tempat fitness dan relaksasi ini. Sebelum aku berjalan sampai ke pintu keluar, kedua orang penjaga kekar ini dengan responsif membukakan pintu tanpa diperintah.
Keluar dari tempat yang bagiku sangat mengerikan ini, sambutan sinar matahari menyilaukanku. Karena tidak biasa berdiam lama di tempat temaram gelap, sinar matahari yang mendadak menerpa, seperti membuat shock indra penglihatanku.
Ternyata, setelah melalui pintu keluar tempat mengerikan itu, yang kutemui adalah halaman parkir yang luas. Tak kusangka banyak sekali mobil dan motor yang terparkir disini. Dan kulihat, gadis itu berdiri, memandangi lelaki itu memasuki mobil mewahnya. Ketika mobil itu melaju meninggalkan area parkir, gadis itu hanya diam berdiri, kepalanya bergerak mengikuti arah jalannya mobil yang semakin lama hilang ditelan bumi. Saat itu juga kulihat, kedua tangan gadis itu mengepal erat dan mendadak aku merasakan suatu kebencian yang mendalam di hati ini layaknya gadis kecil itu yang emosional juga saat melihat lelaki muda yang serba glamour tersebut.
Sudah 15 menit aku berjalan kembali mengikuti gadis itu semenjak meninggalkan tempat mengerikan tersebut. Kali ini keringatku kembali bercucuran setelah sebelumnya sempat mereda ketika berada di dalam tempat mengerikan itu karena disana banyak AC yang dipasang di setiap sudut ruangan. Namun aku tak menyangka bahwa gadis itu memasuki sebuah tempat yang selama ini jarang aku kunjungi dan juga secara umum jarang dikunjungi oleh banyak orang, yakni kuburan.
Gadis itu berjalan, melewati makam demi makam begitupun aku yang dari awal selalu saja mengekor dibelakangnya. Aku punya mental yang buruk jika memasuki area kuburan, ini memang sudah bawaan dari kecil efek dari menonton film horror yang tidak bisa hilang. Bisa dibilang, nafasku mulai berat dan bulu kudukku meremang. Terutama, saat ini aku sadar bahwa yang aku ikuti dari tadi tentunya bukan manusia. Aku ingin kabur, lari dari ketakutanku dan membiarkan berbagai pertanyaan menggantung di benakku. Namun hatiku tetap membulatkan tekad melawan ketakutan itu dan tetap melanjutkan mengikuti gadis kecil ini untuk mengetahui jawaban siapa sebenarnya dia dan apa maksud semua tempat yang dikunjunginya? Mendadak, gadis itu berhenti di sebuah dua buah liang kubur yang baru saja digali. Dia berdiri di atas salah satu liang kubur yang berukuran besar tersebut dan menoleh ke dalam liang di bawahnya. Aku pun menghampirinya, berdiri di samping gadis kecil itu dan juga melihat liang kubur di dalamnya.

Namun, pemandangan aneh luar biasa terjadi. Tanganku, kakiku semua anggota tubuhku gemetaran melihat pemandangan di bawah liang kubur tersebut. Dari ubun - ubun kepala sampai pangkal jari kaki semua seakan anggota tubuhku bergetar hebat. Nafasku tersendat - sendat, serasa dicekik oleh sebuah tangan yang kekar. Mataku melotot hebat, tak bisa sekalipun aku mengedipkan mata karena besarnya rasa takutku yang tak bisa kugambarkan. Lemas - dan lemas, itulah rasa yang semakin lama menderaku. Ketakutan luar biasa telah menguasaiku. Kini aku benar - benar tak berdaya dengan melihat sesuatu yang mengerikan didepanku. Bahkan, film terkejam manusia hingga akhir kiamat nantipun aku berani bersumpah tak akan ada yang bisa menandingi kekejaman yang aku lihat didepan mataku saat ini. Aku sudah tidak kuat, dan perlahan kehilangan kesadaran, akhirnya hanya gelap yang kurasakan.
Rasanya seperti ada yang menggoyang - goyangkan badanku. Semakin lama semakin keras dan kemudian sedikit - demi sedikit aku membuka mataku. Pertama yang kurasakan adalah bau aroma minyak kayu putih, dan setelah sadar, kusadari ada seorang ibu muda yang menyodorkan minyak di hidungku untuk membangunkanku dan seorang kakek tua yang memijat - mijat pundak dan leherku untuk merilekskanku.
Setelah membuka mata aku langsung memposisikan diri untuk duduk. Kulihat sekeliling aku masih di area kuburan dan banyak orang mengelilingiku, memandangiku dengan penuh tanda tanya. Kulihat juga dua buah keranda mayat digotong dan beberapa pekerja sudah siap untuk memasukkan dua buah jenazah yang sudah ditutupi oleh kain kafan. Seorang pemuka agama membacakan doa - doa untuk proses pemakaman dan isak tangis keluarga menyelinginya. Dan begitu kagetnya diriku ketika mengetahui sekujur tubuhku basah dan lengket. Layaknya orang yang diguyur oleh sebuah ember penuh air, begitulah diriku saat ini. Basah kuyup. Namun aku tahu itu dalah keringatku sendiri. Namun aku tak habis pikir keringatku bisa keluar sebanyak ini. Ini tidak lazim, namun diluar akal sehat dan aku ingat bahwa sesuatu yang mengerikan telah aku lihat tadi meski sekejap namun membuatku mengeluarkan semua isi keringat ditubuhku.
"Anda ini siapa?" Tanya seorang kakek tua yang tadi membantuku dengan memijat anggota tubuhku."Kami semua kaget menemukan Bapak tergeletak disini dengan basah kuyup?"
Namun aku tidak langsung menanggapi pertanyaannya. Aku langsung menggantinya dengan pertanyaan lain. "Siapa yang meninggal?"
"Yang meninggal adalah cucu perempuanku dan bayinya," Sang kakek itu langsung menjawab. Dan aku langsung mengajukan pertanyaan lain. " Kenapa cucu kakek meninggal?"

Sang kakek diam sejenak dan mulai menjawab " Dia meninggal tak lama setelah melahirkan bayinya"
Dan kemudian tak lama kakek tua itu pun menambahkan dengan nada berat, " cucuku meninggal setelah membuang bayi yang baru saja dilahirkannya di jalanan dengan memasukkannya di dalam kardus, berharap ada yang menemukannya, namun nahas sebuah kendaraan melindasnya. Kemudian cucuku meninggal terkapar saat perjalanan pulang ke kostnya karena infeksi di rahimnya akibat persalinan paksa yang tidak steril."
"Apakah kakek tahu siapa yang menyebabkan cucu kakek hamil?"
"Anakku selaku ayah dari cucuku sudah meminta keterangan dari teman - teman SMA di sekolahnya, namun semuanya bungkam, seakan tak ingin menceritakan aib yang menimpa cucuku"
"Dan apakah bayi yang tak lain adalah cicit kakek yang meninggal adalah perempuan?" Tanyaku untuk terakhir kalinya.
"Benar ",Jawab sang kakek dengan mata yang memerah.
"Kalau memang begitu akan kutegaskan bahwa cicit kakek adalah seorang gadis yang sangat cantik. Wanginya sangat luar biasa hingga diujung duniapun aku tak akan bisa menemukan parfum sewangi yang dipakai oleh cicit kakek"
"Bagaimana Anda bisa tahu?"
" Ini memang diluar logika dan akal sehat. Percaya atau tidak itu terserah kakek. Bagaimanapun cicit kakek memberiku gambaran apa yang telah menimpa cucu kakek didunia ini dan apa yang akan menunggunya di alam lain. Aku akan menceritakannya kepada seluruh keluarga kakek setelah proses pemakaman."

Lossing You

“Baiklah, jika tidak ada sanggahan maupun pendapat maka rapat kali ini saya tutup dengan bacaan hamdallah”, “Alhamdulillah”. Akhirnya rapat terakhirku bersama kalian semua, membahas tentang pelantikan pengurus OSIS periode 2009/2010 telah usai. 2 jam setengah tak terasa, yang biasanya kita selalu ada canda tawa namun kali ini terasa sangat berbeda. “kayak lagi rapat di gedung DPR aja”, batinku sambil tersenyum melihat teman temanku yang sedang beradu argumen tentang tugas yang diberikan guru mereka. Tidak terasa kebersamaan kita selama 2 tahun akan segera berakhir. Yang biasanya kita selalu bersama-sama, baik makan, tidur, ngerjakan PR dan masih banyak hal hal yang biasa kita lakukan akan terasa berbeda setelah kita tak ada disana.
“Uhh.. jadi tambah sibuk gini, gimana mau fokus kalau ada aja permasalahannya” rintihku menuruni tangga sekolah. Aku berjalan menuju ruang kepala sekolah bersama temanku Rio, bisa dibilang asisten pribadi sih, hehe. Habisnya dia selalu mau aku ajak kemanapun, apa karena dia wakilku juga ya? Hmm. Bisa jadi…
Aku pun segera melaporkan tentang kegiatan pelantikan pengurus OSIS baru, kepada kepala sekolah agar segera terealisasikan kegiatan tersebut, dan segera aku melepas jabatanku di OSIS SMP Kencana Bahari. Rasanya enak banget lama-lama di ruangan kepala sekolah, udah dingin, tempatnya nyaman, kenapa gak ruang OSIS dibuat senyaman itu ya?
“Aduh” dengan sengaja Rio mencubit telingaku, sehingga semua khayalanku menjadi hilang sekejap mata.
“uhh. Dasar kamu usil, apaan sih pake cubit-cubit segala, gak suka ya lihat temennya seneng bentar aja” balasku dengan penuh kejengkelan.
“itu tuh kamu dipanggil kepala sekolah, udah kelar tuh proposal yang kamu ajuin, ngelamun aja kerjaannya, kesambet mbaknya tau rasa loh siang-siang gini”.
Aku pun segera menuju ke meja beliau dan mengambil proposal yang aku ajukan tentang acara pelantikan OSIS, segera aku berpamitan kepada kepala sekolahku dan keluar dengan menarik tangan Rio.
“Idih, sakit tau.” keluhnya.
“udah gak usah banyak ngomong aku capek ayo beresin tas di Ruang Osis terus cap cus pulang”. Aku pun segera membereskan tasku dan bergegas pulang, karena sang mentari juga bersiap untuk pulang.
Teett, teett, teett… teett…
Tanda bahwa bel masuk telah berbunyi, gak terasa sudah 2 bulan duduk di kelas IX. Padahal baru kemarin pengumuman pembagian kelas. Eh taunya sekarang sudah persiapan bimbel dan Ujian Praktek.
“Ya Allah, Cepet banget” kataku bersamaan dengan Melody. Melody adalah teman sebangku ku, 3 tahun kita sekelas duduk sebangku, satu Eskul. Jadi kita berdua itu kayak perangko sama lem, gak bisa dipisahin. Tapi dia adalah teman bersaingku dalam hal pelajaran, kita berdua selalu berlomba-lomba meraih prestasi di sekolah, kalau dalam hal olah raga memang dia paling jago dan aku bukan tandingannya. Tapi kalau Matematika jangan harap dia bisa ngalahin aku. Dan sekarang waktunya pelajaran yang membosankan “IPST” rasa pingin tidur aja, kapan bel pulang bunyi? Cepetan dong…
3 hari lagi upacara pelantikan dan Serah Jabatan pengurus Osis dilaksanakan, persiapan pun segera dimatangkan. karena bagiku dan teman teman adalah upacara yang bersejarah dan akan menjadi kenangan. Setiap hari kita latihan, tak peduli panas dan hujan berharap hasilnya akan memuaskan.
Dan akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, deg degan rasanya. Doa bersama pun menghantarkan kita menjelang prosesi upacara. “Upacara bendera tanggal 25 Oktober 2010 dalam rangka pelantikan dan serah jabatan kepengurusan OSIS periode 2009-2010 segera dimulai, masing masing pemimpin barisan menyiapkan barisannya”. Lantunan merdu pembuka upacara yang dibawakan oleh protokol menambah rasa deg degan di hatiku. Dan kini giliranku untuk menyerahkan jabatanku sebagai pemimpin tertinggi di OSIS SMP Kencana Bahari kepada adik kelasku, setelah menandatangani perjanjian dan pelepasan jabatan tiba tiba pengelihatanku menjadi buram, dan seketika aku terjatuh dan tergeletak lemah di tengah lapangan.
Beberapa saat kemudian aku pun tersadar dan saat itu aku telah berada di UKS sekolah.
“Upacaranya sudah selesai?” kataku panik.
“Belum, sebentar lagi selesai, kamu istirahat dulu. Kondisimu sangat lemah, jangan kamu paksakan, pasti kamu belum sarapan ya” kata salah satu penjaga UKS yang duduk di samping ranjangku.
“Hmm, iya” kataku kecewa. Suara langkah kaki orang yang sedang berlarian membuat gaduh di sepanjang jalan UKS, dan ternyata teman-temanku yang khawatir akan keadaanku. Aku hanya bisa mengucap maaf, karena aku tidak bisa mengikuti upacara sampai selesai. Tapi justru mereka menghiburku dan membuatku tertawa kembali, melupakan kejadian lalu hingga bel istirahat pun berbunyi.
Jadwal bimbel pun dibagikan, dan segera bersiap untuk maju ke medan perang, karena UN pun ada di depan mata. Dan itu menjadi kabar yang menggembirakan bagiku dan melody karena itu menjadi titik awal perlombaan kita berdua.
“Hai, belum pulang kamu?” tanyaku pada melody.
“Belum say, lagi males pulang. Keluar yuk?” jawabnya sambil meraih tas dan bukunya.
“Eh kemana? Aku belum jawab maen geret aja, gak mau ah!” sahutku sambil membenarkan posisi duduk. “ayolah cantik, aku janji deh bakal nurutin permintaanmu, asal kamu mau temeni aku keluar. Hitung hitung refresing sebelum UN”.
Dan akhirnya aku gak bisa menolak ajakan melody, habisnya bikin sebel kalau dia lagi ngambek kalau gak diturutin maunya. Bisa bisa dia gak mau bantuin aku buat ujian praktek olah raga. Hmm. Gawat itu.
Cuaca pun sedang tidak mendukung, padahal tadi terik matahari sangat menyengat kulit kita berdua, dan sekarang mentari pun seakan malu dan bersembunyi dibalik awan hitam.
“Ayo buruan, bentar lagi mau ujan. Tuh liat udah gelap banget langitnya kayak udah malem, padahal masih jam 2 siang” kata melody sambil menpercepat langkah kakinya.
“Iya sabar, capek tau. Ini bukan lagi balapan lari” sahutku sambil mengikuti langkahnya yang semakin cepat.
Sesampainya kita di depan pintu utama tiba-tiba hujan langsung mengguyur bangunan tinggi menjulang ini. Untungnya saja kita sudah berada di dalam mall tersebut. Dan menjadi kebiasaan kita berdua tujuan pertama saat berada di pusat perbelanjaan adalah “TOILET”. Gak tau gimana ceritanya selalu itu yang jadi sasaran utama kita, padahal ya semula gak pingin buang air. 2 jam berlalu membuat jari jari kakiku gemetar karena lelah berjalan mengelilingi tempat seluas ini. Tapi bagi melody itu sebagai olah raganya. Olah raga dari neneknya apa? Emang kalau aku pingsan melody mau gendong aku? Dasar!!!
Setelah makan dan curhat panjang lebar dengan dia, kita berdua akhirnya pulang. Dan aku baru ingat kalau besok ada ujian, jadi aku minta buru-buru pulang agar bisa segera beristirahat dan mempersiapkan untuk ujian esok hari.
“Syukurlah, ujian hari ini lancar. Semoga hasilnya memuaskan” sambil meneguk sebotol air mineral yang ada di tanganku.
“Lancar apaan, kamu gak mau contekin aku. Tau aku gak bisa banget materi itu”. Kata melodi sambil mengambil botol airku dan meminumnya. Aku hanya bisa tersenyum melihat wajahnya yang lucu saat seperti itu.
Hari ini aku benar benar lelah, biasanya sepulang sekolah aku selalu menyempatkan diri pergi ke perpustakaan tapi hari ini aku ingin segera pulang. Melihat aku yang tidak biasanya pulang cepat, Melody pun menghampiriku dan melihatku dengan penuh kebingungan.
“Kamu sakit? aku anter pulang aja ya” tanya melody.
“Gak tau aku ngerasa badanku kurang enak aja, makanya aku cepet-cepet pulang”
Akhirnya aku pulang bersama Melody dan aku meyempatkan pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaanku.
“Ahh, limfoma jenis penyakit yang asing di telingaku, terlalu canggihnya dokter. Itu hanya radang saja” gumamku dalam hati. Setelah mengetahui hasil dari dokter aku pun bergegas pulang.
“Cepet sembuh ya cantik, entar gak ada yang ngajarin aku dong kalau kamu sakit kan bentar lagi UN. Jangan lupa minum obatnya yang rutin, aku pulang dulu ya?” kata Melody sambil menyalakan mesin motornya. Dan perlahan suara motor tersebut menghilang, tanda bahwa dia telah meninggalkan pekarangan rumahku.
Ujian praktek pun telah terlewati, walau lelah tapi aku tetap bersemangat karena UN adalah sasaran utamaku. Semenjak serah jabatan kepengurusan OSIS aku pun jarang bermain ke Ruang Osis, mungkin hanya sesekali untuk beristirahat sambil mengerjakan tugas.
Drrtt.. drttt…
Getar handphoneku, ternyata sms dari Rio “Plng sklh ngumpul di RO ea, da seswatu”. Untung aja dia smsnya waktu aku belum keluar kelas, kalau gak udah aku tinggal pulang dia. “IYA” balasku singkat. Aku pun bergegas menuju RO yang letaknya lumayan jauh dari kelasku, saat aku masuk tenyata semuanya sudah berkumpul dan hanya menunggu aku. Dan lagi ada masalah di OSISku, “masalah apa lagi sih ini, kan udah ganti periode. Bentar lagi kita UN” selaku di tengah pembicaraan. Akhirnya mau tidak mau aku harus terjun langsung di akar permasalahan itu.
Tepat dua minggu aku selalu pulang malam, sehingga kondisiku juga tak terurus. Bagaimana tidak, sepulang sekolah ada jam tambahan materi UN, setelah itu beresin masalah di Osis sampai malam. Berat badanku pun turun tak terduga, mungkin karena aku yang terlalu memforsir tubuhku sehingga melupakan pola makanku.
“Makan bakso enak mungkin ya? Ayo ke kantin” ajakku pada Melody.
“Ogah ah, aku lagi males makan nih. Kamu makan duluan aja. Entar aku susulin kamu di kantin” kata Melody sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
“Oke dah”, aku pun menuju ke kantin dan tiba-tiba ada yang menyapaku dari belakang.
“Pagi kak? Mau kemana?”.
“Eh, iya pagi juga, ke kantin dek” jawabku sambil menoleh ternyata dia adik Osisku yang menjabat menjadi ketua Osis sekarang, akhirnya aku pergi ke kantin bersama dia, biarin toh Melody juga gak mau temenin aku ke kantin. Aku pun memesan bakso 3 mangkok, satu untuk aku dan sisanya untuk dua adikku. Tiba tiba darah menetes dari hidungku tanpa aku tahu, sesegera aku usap dengan tanganku, namun semakin lama semakin banyak darahku yang menetes.
“Astaga, ada apa ini?” keluhku dalam hati, melihatku seperti itu Melody yang baru saja datang segera berlari untuk membeli tissue. Dan kemudian aku meminta ijin untuk beristirahat di UKS sekolah ditemani Melody. Aku pun merebahkan tubuhku di atas kasur UKS yang mulai usang,
“Sudah istirahat dulu aja, nanti kalau udah baikan baru kita balik ke kelas. Aku tetep ada di sampingmu kok” kata melody menenangkanku. Aku pun mulai menutup mataku dan mencoba tidur tuk menghilangkan rasa sakit yang ada di kepalaku.
“UN 2 HARI LAGI” itulah yang sekarang tertuliskan di pojok atas setiap papan tulis di sekolahku, semoga semuanya berjalan lancar dan mendapat nilai yang terbaik. Jam pun tak pernah aku lewatkan untuk membaca dan membaca, sampai akhirnya UN pun telah terlewati dengan penuh kepercayaan diri ku arungi setiap soal demi soal yang selama ini telah menyarang di otakku. Kini tinggallah pengumuman hasil UN dan wisuda yang akan diadakan satu minggu setelah pengumuman UN. Dan kini aktivitasku hanya mondar mandir ke sekolah, maen sama Melody, nonton, baca buku bareng dan lama-lama bosen juga.
Dan akhirnya waktu yang ditunggu pun datang
“PENGUMUMAN HASIL UN” betapa deg degan rasanya. Handphoneku tiba tiba berdering dan ternyata telpon dari Melody.
“Say, udah lihat hasil UN kamu belum?”
“Belum, masih trouble dari tadi, kamu udah lihat? lihatin dong punyaku, mungkin aja bisa.”
“Okay, tunggu bentar yaa?”
—- beberapa saat menunggu —-
“Say, serius itu nomer kamu?” Ucap Melody.
“Iya memang kenapa” ucapku.
“Kamu kok gak…!” Ucap Melody seperti tak kuat untuk meneruskan ucapannya.
“Gak kenapa, jangan gitu deh, bikin takut nih. Lulus kan aku”
“Tapi hasilnya enggak”
“Serius kamu” ucapku mulai dengan nada sedih
“iya ngapain aku bohong sama kamu”
“——————–” mulai menangis
“Say”
“Aku masih gak percaya, aku ke rumahmu ya?”
“iya beneran, hasilnya itu. Kamu gak...gggakk..... Gak mungkin kalau gak lulus dan gak dapet nilai bagus say, maaf yaa aku bohongin kamu”
“Beneran, hmm. Pokoknya aku ke rumahmu sekarang deh. Wait ya”
Tuttt…
Teleponpun aku matikan dan segera menuju ke rumah Melody, tapi saat aku bangun dari tempat tidurku lagi lagi hidungku berdarah dan tiba-tiba pengelihatanku menjadi remang.
Dan saat ku terbangun aku sudah berada di Rumah Sakit dan di sekelilingku ada Ayah dan Ibuku yang menatapku dengan sedih.
“Akhirnya kamu bangun juga nak, hampir satu minggu kamu terbaring disini. Kita semua sudah mengetahui tentang penyakitmu, kenapa kamu rahasiakan semua itu dari kami?”
Aku pun teringat kejadianku dulu saatku mendapatkan hasil laboratorium, aku fikir itu hanya peradangan biasa dan tidak pernah berfikir akan sejauh ini. Tapi jika memang itu yang terjadi itu sudah menjadi kehendak illahi. Dan mungkin mereka terlalu sayang kepadaku sehingga mereka takut jika aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan sehingga mereka sibuk dengan pekerjaan mereka tanpa mereka sadari jika yang aku butuhkan adalah kehadiran mereka.
Akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang, saat itu aku menolak untuk memakai kursi roda karena aku yakin aku masih sanggup untuk berjalan dengan kedua kakiku. Esok adalah hari dimana aku akan diwisuda, aku memakai kebaya putih dengan rambut di konde seperti para pejuang emansipasi masa lampau, bukti bahwa aku telah menamatkan pendidikanku.
Esoknya, orang tuaku seperti akan pergi kemah membawa perlengkapan yang begitu banyaknya, aku berkali-kali menolak untuk memakai kursi roda itu tapi mereka tetap selalu memaksa untuk membawanya kemanapun aku pergi. Tepat pukul 07.00 WIB acara wisuda di salah satu hotel bintang lima di mulai. Acara demi acara aku lakui dengan penuh semangat, hingga acara selesai. Setelah selesai aku pun menyempatkan untuk berfoto bersama dengan semuanya untuk menjadi kenangan dan salam perpisahan dariku, agar mereka selalu teringat walau hanya dengan foto. Dan yang terakhir aku meminta foto dengan Melody, dia yang paling gak mau untuk diajak berfoto bersama tapi saat itu dia mau menuruti kemauanku. Sebelum aku pulang aku pun membisikkan padanya agar dia menemuiku pukul tujuh malam nanti karena aku mempunyai kenang kenangan terakhir yang istimewa untuknya.
Sesampaiku di rumah, aku pun memutuskan untuk beristirahat karena aku sangat lelah, sambil menunggu Melody datang. Namun kondisiku saat itu sangat melemah, aku pun dilarikan ke Rumah Sakit kembali begitu pula melody juga tidak menghubungiku sama sekali membuatku semakin jengkel padanya. Aku tahu bahwa waktuku tidak akan lama, aku meminta kepada orang tuaku agar mereka mau mengijinkanku untuk berkunjung ke salah satu yayasan yang dulunya pernah aku kunjungi bersama melody.
Esoknya dari Rumah Sakit aku langsung menuju ke tempat itu, aku menjumpai banyak anak anak yang mengalami nasib sepertiku, aku mencoba menghibur mereka dan mengajak bermain. Namun kaki yang selalu aku jaga kini tak sanggup untuk menopang tubuhku, mau tak mau aku harus menggunakan kursi roda itu.
Tepat pukul 11 Melody ke rumahku namun tiada siapapun di rumah, dia pun pergi dengan rasa putus asa, semenjak malam itu aku jarang menggunakan handphoneku karena dilarangnya aku kontak langsung dengan radiasi ponsel tersebut. Berkali kali Melody menghubungiku tanpa sepengetahuanku. Lama kelamaaan aku mulai lelah dengan kondisiku sekarang, aku hidup tapi mati. Aku pun meminta untuk pulang dan tidak berlama-lama di Rumah Sakit yang hanya menghabiskan biaya. Dan keluargaku memutuskan untuk pindah rumah ke tempat yang lebih nyaman dan tenang.
Kini Melody telah mendapatkan apa yang diinginkannya, dia masuk ke salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, mengambil prodi keolahragaan dan sekarang dia hampir semester 3. Saat itu Melody pergi ke swalayan dekat dimana dia kuliah. Tiba tiba handphonenya bergetar bahwa ada pesan dari “cantik” :
"Melody bagaimana kabarmu? Aku harap baik-baik saja. Sudah lama kita tidak bertemu ya? Oh ya aku tunggu kamu di rumah ya jam 4 sore, jangan terlambat."
Mendapat pesan tersebut Melody pun segera bergegas ke rumahku, tak lupa dia membawakan 2 cup es krim rasa vanilla boneka kesukaanku.
Tepat pukul 4 dia sudah berada di depan pintu rumahku. Belum sempat dia mengetuk pintu, ibuku telah membukakan pintu seakan dia mengetahui bahwa melody akan kerumah.
“Assalamualaikum tante” sambut melody sambil menyium tangan ibuku
“Melody sudah datang, ayo masuk nak, sudah kami tunggu dari tadi”
“Iya tan, terima kasih. Dimana cantik tante?”
“Iya ini kita mau kesana sekarang”
“Loh memang cantik sekarang ada dimana tante, ini sudah saya bawakan es krim kesukaan dia”
“Iya sudah bawakan saja untuknya, dia pasti sangat senang karena dia selalu menunngumu, ayo daripada kemalaman segera berangkat saja”. Sambil keluar rumah dan mengunci semua pintu.
Setengah jam berlalu, tapi melody semakin bingung dengan tujuan mereka, justru ke sebuah tempat dimana semua orang telah tertidur pulas dengan tertancapkan sebuah nama.
“Tante, kita mau ke makam siapa ya? Bukannya kita mau ke tempat cantik?”
Ibuku pun hanya terdian dan mempercepat langkanya hingga tepat berada di atas sebuah gundukan tanah yang masih basah bertuliskan “Cantika Purnama Santosa bin Adi Santosa”
“Tante?”…
“Iya Melody, dia telah meninggal 3 bulan yang lalu tepat dimana dia berumur 18 tahun. Semenjak kalian bertemu terakhir saat wisuda dia menunggumu sampai malam karena dia bilang bahwa dia akan memberikan hadiah ulang tahunmu yang tepatnya esok hari setelah wisuda, namun tuhan telah berkata lain. Malam itu tepat pukul 12 malam penyakitnya semakin parah, dan semua dokter telah turun tangan untuk menyembuhkan penyakitnya. Akhirnya kita memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih tenang. Setiap malam dia selalu berharap agar bertemu denganmu, tapi kita tidak pernah mengijinkannya karena kondisinya semakin parah jangankan untuk berdiri, berbicara saja dia sudah kesusahan. Dia juga menitipkan sesuatu untukmu sebelum dia pergi meninggalkan kita semua, ikhlaskan dia nak. Doakan agar dia bahagia disana”.
Melody pun tak henti hentinya menangis, dia menyesal mengapa dia tidak menemuinya saat itu. Dia pun membuka sebuah kotak kecil berisi syal warna biru dan sebuah surat.
"Aku harap kamu gak nangis sekarang. Mungkin saat kamu baca surat ini aku sudah ga ada di sampingmu. Maafkan aku jika selama ini aku tidak jujur padamu, aku juga gak pernah tahu jika penyakit itu yang membuatku seperti ini. Kamu ingat kan saat aku ke dokter pulang sekolah bersamamu itulah awal dari semua ini, saat hidungku berdarah saat di kantin. Tapi ya sudahlah, mungkin itu memang takdirku. Aku seneng banget punya sahabat seperti kamu, kamu perhatian, peduli sama aku. Aku sedih banget malam itu waktu aku tunggu kamu di rumahku, tapi kenapa kamu gak dateng. Mungkin saat itu aku bisa mengatakan semuanya ke kamu.
Melody sayang, selamat ulang tahun ya. Sekarang usiamu tepat 19 tahun bukan, maaf bukannya aku memberimu kado ini tapi mungkin ini waktu yang tepat. Maaf aku gak bisa kasih kamu apa apa. Tapi aku sudah buatin syal spesial untuk kamu. Syal ini aku rajut setiap malam saatku merindukanmu. Mungkin ini tidak sebagus yang dijual di pasar maupun mall. Mungkin kalau dijual Cuma laku goceng. Itu pun udah bagus. Hehehe
Doakan aku ya? Semoga aku tenang disini.
Aku selalu menyayangimu
Cantika"
“maafkan aku, seandainya kamu tahu saat itu kita berada di satu Rumah Sakit, tapi aku tidak menyadari bahwa kamu berada di tempat itu” ucap melody lirih sambil berjalan perlahan meninggalkan tempat persemayamannya yang terakhir.
Ternyata, Malam itu Melody sedang dalam perjalanan ke rumah Cantik. Namun, karena tidak fokus terhadap kendaraan yang berlalu lalang, tanpa di sadari sebuah truk, tiba-tiba oleng dan tak sengaja menabrak pengendara motor yang ada di depannya, yang tak lain adalah Melody. Warga pun segera membawa Melody ke Rumah sakit.
Melody sangat menyesal dengan kejadian malam itu. Dia berharap bisa bertemu dengannya walau untuk yang terakhir kali. Tapi itu semua percuma karena itu sudah tidak mungkin. Sekarang Melody menjadi lebih tegar dan dia juga selalu memakai syal yang dirajut oleh Cantik kemanapun dia pergi.
‪#‎Hargailah‬ setiap pengorbanan yang dilakukannya, jangan pernah kau sia siakan dia. Karena kamu belum tentu tahu apa yang dia rasakan saat itu meskipun kau telah mengenalnya. Jangan sampai kamu menyesal jika suatu saat kamu kehilangannya untuk selamanya#
THE END